Ngomong, Fau..

Thriller psikologis #1: Pemalu. Penakut. Gak Pemberani.

Padahal dari rumah udah semangat buat openmic, pas nyampe Djendelo Cafe tempat openmic komunitas Stand-Up Indo Jogja, eh cuma dipendam di saku sweater materinya.

Saya cuma bisa diam. Ngomong, Fau, ngomong!

Mental tambah down pas datang Bang Hifdzi Khoir, apalagi sempatnya Bang Hifdzi duduk di sebelah saya. Gila. Aura Bang Hifdzi ini kuat banget. Dan Bang Hifdzi pun kayak gak ngerasa kalo di samping dia ada saya. Ngomong, Fau, ngomong! Tanya apa, kek. Entah saat itu saya cuma bisa kayak patung. Nafas pun setengah-setengah. Pengin gitu menyapa, supaya dikenal dikit dan akrab. Saya takut. Tapi saya pengin jadi siapa-siapa, kalo pengin jadi siapa-siapa harus berani ngomong, aktif, jangan pasif dan cuma diam.

Tapi gimana caranya? Saya kayak gak tahu gimana caranya. Sulit untuk melepas belenggu kalo saya ini orangnya pendiam. Saya suka mikir, kamu itu pendiam, Fau. Pendiam ya diam jangan ngomong. Saya udah beberapa kali baca buku tentang public-speaking, latihan bibir segala macam, tapi kepercayaan diri ini masih belum tumbuh. Prakteknya susah banget.

Setelah acara openmic malam kemarin saya lihat komika yang openmic ikutan evaluasi materi. Saya pengin gabung ikutan dan dengar, tapi saya menghukum diri saya sendiri. Kamu kalo mau ikutan evaluasi materi dan dapat ilmunya, harus berani openmic dulu. Titik.

Dan saya pulang dengan perasaan kecewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s