Tanggal TUA

Kemarin, sama hari Jum’at, lupa gak nulis di sini.

Thriller psikologis #3: Tanggal tua.

Mulai kemarin, isi dompet udah satu lembar. Warna ijo. 20 ribu. Dipake buat makan dua kali abis.

Makan hari ini ngenes. Untungnya masih ada sisa-sisa duit recehan yang saya kumpulin, kalo misalnya ada uang kembalian yang receh disimpan di samping tempat tidur. Ternyata cukup buat tiga kali makan. Alhamdulillah.

Tapi, rada gak enak juga ngasih uang recehan pas bayar ke Aa Burjo-nya, ketika bayarnya minta maaf. “Maaf, ya, mas, bayarnya recehan. Hehehe.”

“Gak apa-apa, kok.”

Gak apa-apa tapi saya tiba-tiba di-smackdown dari belakang.

Pas bayar pake recehan juga suka takut. Mau bayar kan pasti dicek dulu, dihitung duitnya berapa, takut recehannya ada yang hilang satu kan berabe. Walaupun di rumah udah dipastikan pas segitu, tapi pas nyampe kasir, beberapa kali pengalaman, suka tiba-tiba kabur.

Kampretnya, udah dua kali, saya ngecek Warung Burjo “Susuganan” yang paling dekat ke kosan, hari ini tutup. Kemana, ya, yang punya? Apakah mereka pulang kampung? Kok saya gak diajak?

Jadinya makan di Warung Burjo yang dekat dengan jembatan Gajah Wong itu. Namanya saya lupa, gak lihat, karena baru dua kali makan disitu, tadi pagi dan tadi siang. Lumayan asyik, biasanya kan kalo warung burjo itu hiburan yang disediakan itu satu TV. Biasanya di pojokkan dan di taro di atas dinding. Kalo burjo yang satu ini hiburannya pakai musik. Untungnya, bukan dangdut. Yang punya ternyata sekelompok anak muda, ya, karena saya gak hobi dangdut. Bukan gak suka, ya, karena banyak kok lagu dangdut yang asyik menurut saya. Yang diputar adalah lagu-lagu pop semacam lagu Tiket – Hanya Kamu Yang Bisa, Hello – Dua Cincin, yang kayak gitulah.

Selain itu, pelayannya juga ada anak muda banget. Masih SD malah. Yang nganterin nasi telor ke saya ternyata anak kecil. Wah hebat. Gemesin. Pengin nyubit. Sini sama Om.

Hari Jum’at, dan kemarin, saya jadi tumor, tukang molor. Habis nonton openmic (yang gak dibarengi dengan saya openmic, masih berkutat dengan masalah self-confidence dan jaim). Lalu kemarin sudah mengikuti Orientasi Tutorial PAI untuk matkul PAI yang lumayan bikin ngantuk pembicaranya. Tutorial PAI ini semacam berkelompok untuk nantinya ditutorin sama satu orang kating di luar jam kuliah. Walaupun Non-SKS tapi ini akan mempengaruhi prosentasi buat nilai matkul PAI. Hadeuh, nambah-nambah kegiatan aja nih. *kemudian digeplak sama Malaikat Roqib dan Atid*

Dan kemarin, hari Sabtu, saya juga hadir di B2MP, Bincang-Bincang Mahasiswa Prestatif bersama CES Jogja. Ya, semacam diskusi bareng alumni kating yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan ilmiah. Bang Ridwan, salah satu pembicaranya, pernah lolos dua tahap PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) untuk PKM Penelitiannya. Lumayan, lho, itu. PKM itu Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti. Jadi PKM itu intinya wadah untuk menyalurkan ide-ide gila mahasiswa. Tapi seleksinya berat, untuk sekedar dibiayai saja itu prosesnya memakan waktu dan tenaga yang banyak. Katanya sih gitu. Dan PKM itu banyak jenisnya, bukan cuma penelitian, ada kewirausahaan, karya tulis, dan lain-lain. Jadi, apa yang saya dapatkan ketika diskusi B2MP kemarin? Bakal saya bedain deh untuk satu postingan khusus.

Gak kerasa udah maghrib, sholat dulu, gengs.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s