Kenapa Sering Gak PD dan Labil Ketika Bergaul Dengan Banyak Orang?

Pernah mencoba menjawab pertanyaan, kenapa saya sering gak percaya diri?

Kenapa saya sering labil ketika bergaul dengan banyak orang?

Jawabannya simpel, karena saya belum nemuin diri sendiri.

Selama ini saya berpikir, bahwa, orang yang disenangi orang lain adalah orang yang pandai bergaul, humoris, dan menyenangkan.

Iya itu benar. Yang bego adalah saya berpikir bahwa orang yang pandai bergaul, humoris, dan menyenangkan itu orang yang kelihatannya banyak teman, orang yang kelihatannya banyak omong, orang yang kelihatannya selalu bikin bahan bercandaan setiap waktu. And, that is wrong. Totally wrong.

Berawal dari sebuah buku berjudul Public Speaking for Teacher karya Charles Bonar Sirait and Friends. Ada satu BAB yang sangat menarik judulnya Kepribadian Manusia yang dikarang oleh Charles Bonar Sirait sendiri, di bagian depan BAB-nya terpampang sebuah pertanyaan besar, “Siapa saya sebenarnya?”

Di BAB itu pertama-pertama saya diyakinkan bahwa saya adalah pribadi yang sangat unik, gak ada satu pun umat manusia yang sama dengan kita. Lalu diperkenalkan dengan teori klasik Psikologi tentang Kepribadian yang konon sudah diterapkan Hippocrates sejak 2400 tahun yang lalu, yaitu ada empat tipe kepribadian: Koleris, Sanguinis, Phlegmatis, dan Melankolis.

Saya baca satu-satu, Koleris yang katanya dominan, sangat sok berkuasa, manipulatif. Tegas dan lugas. Oh, I think it is not my personality.

Lanjut ke Sanguinis, yang katanya, Populer-Influence. Lanjut ke Sanguinis yang katanya punya kemampuan berbicara yang sangat apik, enak di dengar dan pokoknya kalo lagi ngomong, dia aja lupa ngomong apa aja dan suka ngelantur. Keahlian storytelling-nya sangat kece sehingga kalo mereka cerita sering bikin twist-twist yang menarik. Keren, juga, ya.

Berlanjut ke Phlegmatis. And then I found my self.

Ciri-ciri orang Phlegmatis adalah gak punya sikap yang jelas dalam mengambil keputusan, sering bimbang dan ragu-ragu lama sekali. Betul, kalo misalnya pake baju apa kalo keluar rumah mikirnya lama. Dan lo pikir cewek doang yang sering kayak begitu. Kalo mau keluar rumah pun banyak pertimbangannya, apalagi kalo di luar hujan.

Orang Phlegmatis itu walaupun sudah dikasih hak suara, atau hak untuk memilih, bahkan hak untuk berpendapat, di dalam hatinya padahal udah memilih, tapi ketika dihadapkan untuk disuarakan di depan publik, keraguan itu muncul. Orang Phlegmatis cenderung damai dan gak mau nyari-nyari masalah. Kalem. Santai. Peace and Love my bro. Lalu, katanya, Orang Phlegmatis itu sulit untuk melakukan hal-hal atau kegiatan yang besifat detail, contohnya yaitu merapikan tempat tidur. Dengan terpaksa saya menoleh ke kasur tidur saya.

Spreinya berantakan. Kasur disitu spreinya di Zimbabwe, terpisah jauh. Bantalnya miring.

Lalu saya tuliskan di samping penjelasannya, “WTF, Maybe I’m Phlegmatis?”

Dan yang terakhir, umumnya orang Phlegmatis itu memancarkan wajah yang bersih dan polos.

Bersihnya salah, polosnya benar, tapi lebih ke arah bego sih.

Dan Melankolis juga penting, kebanyakan orang-orang awam bilang orang Melankolis itu orang yang sering galau. Orang yang kerjaannya menatap langit sambil berpikir bahwa dunia ini terlalu kejam untuk hubungan asmaranya dengan wanita. Kalo misalnya ada yang sering baper dibilangnya, “Ih, kamu melankolis banget sih.” Ternyata bukan.

Menurut teorinya, Orang Melankolis kebanyakan jenius, mereka filosofis. Tapi bukan dalam artian filosofis itu menye-menye dalam urusan pergalauan ABG labil. Dan yang terakhir, orang Melankolis itu sangat idealis. Pokoknya pendiriannya kuat.

Lalu dikasih Uji Profil Kepribadian, disodorin banyak kata-kata sifat dalam Bahasa Inggris dalam dua bagian, bagian pertama kelebihan dan bagian kedua kekurangan. Terakhir ditotalin.

Total di Sanguinis saya dapat skor 8. Koleris 8. Melankolis 23. Dan.. Phlegmatis 29.

YES, I’M PHLEGMATIC.

Dan dari total itu, dengan kejujuran hati, lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya.

And then I’m realize, selama ini, pertama-tama masuk universitas banyak sekali pelatihan motivasi yang diberikan dan itu kebanyakan merujuk kepada cara menemukan diri sendiri. Saya ikut ESQ, di sesi inner journey, sesi yang menyuruh kita menemukan dan menjelajah ke dalam diri kita sendiri. Sesi ini menjadi sesi satu-satunya saya nangis, karena saya selalu berpikir saya belum menemukan diri sendiri. Lalu, di ospek jurusan dikasih AMT. Achievement Motivational Training. Dimana disuruh menuliskan potensi dan impian. Tapi, masih kurang greget, saya disodorin cara menemukan kepribadian di buku PUBLIC SPEAKING! Bosen sih, disuruh menemukan diri sendiri dulu, terus-terus-terus dan terus. Bahkan, untuk nyari persona di Stand-Up Comedy, Pandji Pragiwaksono nyuruh para komika untuk menjadi diri sendiri, gak dibuat-buat. Adriano Qalbi juga bilang gitu, “Emang harus nemuin diri sendiri dulu, biar ke sininya gak terlalu kaku.” kata dia ketika diwawancara perihal di panggung ketika Stand-Up sekarang udah jarang nulis kata per kata lagi dalam satu video youtube-nya Syukron Jamal dan Asep Suaji.

Terus Syukron nanya lebih dalam tentang attitude di panggung itu bagaimana dan kebanyakan para komika itu kesulitan nyari di sendiri.

Adriano Qalbi bilang begini,”Gue suka balikkin ke lingkaran pertemanan. Lo di lingkaran pertemanan lo, lo itu siapa. Awwe dan Adjis, kita tau dia itu anak tongkrongan, mereka yang suka nyeletuk di kelas. Pandji Pragiwaksono, dia itu orang yang bandel sama guru. Kalo lo emang pemalu dan punya pemikiran aneh ya lo jadilah orang itu. Kalo lo ternyata loser gak punya teman, ya lo jadilah itu. Karena gak akan jauh dari situ keresahannya. Kayak gue, gue gak banyak temannya, gue gak nyeletuk depan guru, gue itu kayak ngomongin orang di belakang, itu gue.” dengan santainya dia bilang gitu, seolah tanpa beban.

Adriano Qalbi bilang itu dengan woles, dan apa adanya, karena dia jadi dirinya sendiri.

Dan seketika saat itu juga saya sadar, selama ini saya terlalu berjuang keras buat nyari banyak teman dan lupa untuk nemuin diri sendiri.

Selama ini, apalagi dua tahun terakhir, saya berusaha untuk jadi orang yang ngelucu di depan kelas, jadi orang yang sering nyeletuk ketika ada guru, jadi orang yang kalo datang pasti disukai dan semua orang tertawa. Semua itu salah. Padahal, sebenarnya, saya itu introvert, gak suka nyeletuk di kelas alias pendiam a.k.a kalem, dan ketika saya datang, orang biasa aja. Ternyata saya bukan center di pergaulan, saya sider.

Dan yang lebih parahnya lagi, dalam hal berteman, saya sering sekali gak berkepribadian. Gak punya prinsip. Ke situ nyobat, ke sini nyobat, dan akhirnya yang terjadi adalah pertemanan kosong. Soleh Solihun juga punya pengalaman nyebelin dan dia bisa mengutarakan keresahannya dengan baik, dia bilang kesel sama orang yang akrabnya itu setengah-setengah, gak akrab-akrab banget. Karena kalo misalnya kenal dan akrabnya setengah-setengah, dia suka sok asyik. Dan Soleh terpaksa untuk mengakui dia asyik padahal dia gak asyik.

Jadi seperti pisau bermata dua. Dan saya, selama SMA, jadi pisau bermata banyak. Ke sini so asyik ke situ so asyik, tapi ketika diajak foto, saya gak ada yang ngajakkin. Karena menurut mereka, saya enggak bermakna, saya cuma numpang lewat.

Mumpung masih di awal perkuliahan, saya untungnya sadar. Mumpung masih belum banyak pertemanan kosong yang saya kumpulkan.

Saya masih berada dalam tahap labil. Di dalam pergaulan. Di mana saya cenderung gak bisa menempatkan arah dalam pergaulan mau berada di mana. Dan hal terpenting adalah jangan mencoba membuat semua orang senang. Karena itu melelahkan.

Setelah saya diskusi dengan seorang teman yang sangat menarik, kami bertukar buku Bang Dale Carnegie, namanya Bang Abdul Hadi, katanya, saya itu terlalu banyak melihat orang lain. Terlalu sering membandingkan orang lain dengan diri kita. Ketika melihat orang lain dianggap humoris, kamu pengin jadi humoris. Ketika orang lain kelihatannya punya banyak teman, kamu juga pengin. Padahal, kalo kamu sadar diri kamu, mereka yang kelihatannya banyak teman, yang sering sok asyik dan ketika ngobrol sama cewek kelihatannya langsung ketawa-ketawa bareng, sebenarnya keakrabannya dangkal. Kalo lo introvert, jadilah introvert. Karena kita kan sebenarnya kalo berteman itu benar-benar dalem banget.. gak dangkal. Makanya kuantitasnya sedikit, tapi kualitas bagus. Stop jadi pisau bermata dua.

Kemarin pun, gara-gara bacain postingan blog-nya Bang Pandji Pragiwaksono tentang acara talkshow-nya Sebelas12, bahwa yang dia prioritaskan untuk senang dengan acaranya adalah: 1. Bintang tamu. 2. Dia sendiri. dan 3. Penonton.

Kenapa penonton terakhir, bukannya penonton yang paling menentukan acara itu dibilang bagus atau enggak? Karena Pandji lebih memprioritaskan yang lebih kecil dibandingkan yang besar. Dan itu berhasil. Berakar dari kutipan stand-up komedian luar negeri, Bill Cosby:

I don’t know the key for succes, but the key for failure is trying to please everybody. -Bill Cosby

I’m trying too hard to please everyone.

And I’m feel tired about it.

Baru nyadar ini.

b234de38d7484268b2f498a1522cc39a

Pantesan saya sering ngerasa kesepian kalo di depan orang banyak. Pantesan saya sering ngerasa linglung, labil, gak tau arah, ketika diharuskan berbicara dan berhadapan di depan publik.

Dan FAK-nya lagi adalah I AM THE MOST LONELY PERSON.

ANJAY BANGET, KAN.

Dan ternyata Bapak Psikologi Sigmund Freud nyimpulin dan ngejelasinnya gampang, saya sambungin sama masalah saya, perihal social-anxiety disorder saya yang sering kaku dan linglung ketika berhadapan dengan publik.

Ada konsep Id, Ego, dan Super-Ego. Id itu bagian yang bekerja dengan cara Pleasure Principle, pokoknya nyari kesenangan. Dan Ego, itu yang mengendalikan gagasan dan pikiran dari Id dan Super-Ego menjadi kegiatan, aktivitas, atau tingkah laku keluar realitas. Dan Super-Ego bekerja ke arah nilai-nilai sosial dan moral seperti menyenangkan orang lain. Dan ternyata, Id dan Super-Ego-nya saya pengin menyenangkan semua orang, namun Ego saya bilang bahwa saya gak sanggup. Hasilnya apa, gejala kecemasan setiap saya dihadapkan pada kegiatan yang mengharuskan saya bertemu banyak orang.

Oh, jadi, gitu, bahkan se-abstrak-abstraknya konsep ilmiah ternyata bisa disambungin sama masalah pribadi. Thank you Psychology! Baru belajar konsep ini kemarin, keren kan? Hehehe.

Kembali lagi, orang yang disenangi orang lain adalah orang yang pandai bergaul, humoris, dan menyenangkan.

That’s right. Untuk sebagian orang. Remember the rule, stop bikin semua orang senang.

Mungkin, beberapa teman SMA saya banyak yang akrab banget sama saya sampe sekarang. Pertemanan kami gak kosong. Akrabnya gak setengah-setengah. Mereka ketika ditanya, saya orangnya kayak gimana sih, mereka berpikir saya pandai bergaul, humoris, dan menyenangkan.

Padahal, yang lain? Biasa, aja. Hukum Relativitas. OMG, Einstein? Fisika? FAK IT.

Be yourself. Saya bisa menyenangkan ketika saya jadi diri sendiri, dan itu untuk sebagian orang saja.

Saya adalah orang yang humoris, untuk sebagian orang saja. Selalu ingat, selera ketawanya orang itu beda-beda. Bahkan dosen saya tadi Bu Farida Harahap dalam kuliah perdana Psikologi Kepribadian mengatakan, “Semua orang punya rasa humoris, tapi gak setiap waktu.”

Jadi untuk introvert yang kalem seperti saya gak usah takut jadi stand-up komedian. Hehehe. Yang terpenting adalah jadilah diri sendiri di hadapan penonton. Selagi masih bisa ketawa, anggap aja diri sendiri humoris. Minimal humoris buat diri sendiri.

Saya juga adalah orang yang pandai bergaul, kok, tapi bergaulnya gak seagresif orang yang kelihatannya banyak teman tapi pertanyakan kembali, pertemanannya dalam gak tuh? Apa jangan-jangan sekadar numpang lewat, doang? Oh, iya, reminder, untuk kami para introvert, ngobrol berdua lebih asyik. Seriously. Coba aja. Apalagi kalau orang yang diajak ngobrol menurut kami menarik, pasti panjang tuh ceritanya.

Akhir kata, saya gak bakal maksain diri lagi buat punya teman banyak. Mulai sekarang jadi diri sendiri aja deh.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Sering Gak PD dan Labil Ketika Bergaul Dengan Banyak Orang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s