Ingatan Fotograpi Bukan Hanya Khayalan Anime Detektif Belaka

Dulu sekali saya pernah nonton anime judulnya Detective School Q atau saya sering nyebutnya Dan Detective School, ada seorang tokoh yang tiba-tiba teringat ketika saya membaca buku Pengantar Psikologi karya duo serigala goyang dribbles Atkinson, Rita Atkinson dan Richard Atkinson, dan Ernest Hilgard, bab kedelapan tentang ingatan. Tokoh tersebut bernama Megumi Minami atau sering disebut Meg. Dia punya bakat unik yaitu mempunyai ingatan fotografis. Dia bisa mengingat apapun yang ada di TKP secara detail dalam sekali pandang.

megumi-minami
Megumi Minami. (Source)

Anjrit, keren abis nih cewek pokoknya. Dia itu bisa nyebutin barang-barang yang ada di TKP, dimana letaknya, bahkan bisa ingat dimana letak tahi lalat orang yang dilihatnya ketika lewat secara sekelebat. Kok bisa gitu, ya?

Saya kira itu cuma khayalan-khayalan dalam anime tapi ternyata benar-benar ada di dunia ini. Dan setelah saya googling, banyak banget orang yang punya kemampuan photographic memory atau eiditic memory, salah dua yang saya kenal adalah Nikola Tesla dan Guilermo Del Toro. Bisa lo baca di sini. 

Dengan buku Pengantar Psikologi ini saya akan mencoba menjelaskan untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya teringat Meg ketika saya baca bab ingatan, tepatnya ingatan jangka pendek. Karena ingatan itu dibagi dalam dua menurut rentang waktu mengingatnya, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. Ingatan jangka pendek itu dipakai cuma dalam materi yang harus diingat sebentar, cuma beberapa detik. Sedangkan ingatan jangka panjang adalah ingatan yang mengingat di memori dalam jangka waktu yang lama, bisa bertahun-tahun.

Yang jadi sorotan adalah ingatan jangka pendek yang katanya lebih suka dengan kode-kode akustik dibanding kode-kode visual. Sebelumnya perlu diketahui, proses mengingat itu ada tiga tahapan. Layaknya modem yang mengolah data analog menjadi data digital. Ingatan atau memory pun begitu, melalui tahap encoding (pengolahan fenomena fisik ke dalam kode yang diterima ingatan), tahap storage (mempertahankan atau menyimpan kode selama beberapa waktu dalam ingatan), dan tahap retrieval (memanggil kembali ingatan yang disimpan).

3-tahap-memori

Kode-kode visual ini kurang menarik untuk ingatan jangka pendek. Masuk akal. Karena kebanyakan dari kita gak mampu mengingat ketika habis dari Indomerit lalu ditanya sama seseorang, “Eh, kasir yang tadi ngelayanin lo, warna matanya apa, ya?” Pasti lo gak tau soalnya kita emang gak merhatiin, iya, kan? Nah, sebetulnya, fenomena ini sering dicap sebagai “kesulitan ingatan” seolah-olah kita punya kemampuan ingatan yang buruk, padahal mah kita emang gak merhatiin. Dan orang-orang kayak Meg ini ternyata punya perhatian lebih.

Dalam penelitian sesuatu semacam ini disebut bayangan eiditik. Kemampuan menahan gambaran visual dalam ingatan jangka pendek hampir sejelas foto. Orang-orang dengan bakat ini sungguh langka. Masih ingat ingatan jangka pendek lebih suka dengan kode-kode akustik? Nah, kode-kode akustik ini yaitu materi verbal seperti angka, simbol, huruf, dan kata-kata. Untuk ingatan jangka pendek, orang-orang yang lebih peka terhadap kode visual ini termasuk spesial.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan pada anak-anak cuma sekitar 5% yang melaporkan ada bayangan visual yang berlangsung lebih dari setengah menit dan punya rincian yang tajam. Jadi anak-anak itu disuruh ngeliat gambar seekor kucing selama 5 detik dan disuruh lagi ngeliat kanvas kosong. Sebagian besar mengeluh gak melihat apa-apa, gak ngeliat after image-nya alias bayangan setelahnya. Tapi yang minoritas 5% itu bisa. Mereka bisa menjawab secara rinci ketika ditanya berapa garis ekor pada kucing tersebut. Gokil.

Tapi, bayangan eiditik ini cuma sebentar. Ada keterangan bahwa ketika ngedipin mata berlebihan atau mengalihkan pandangan ke kanvas yang warnanya abu-abu itu bisa bikin bayangan langsung kabur. Berarti yang dilakukan oleh Meg ini langsung dialihkan ke dalam ingatan jangka panjang dengan melihat Teori Ingatan Ganda. Dimana ketika butir-butir informasi masuk ke dalam sistem ingatan melalui ingatan jangka pendek. Sekali waktu, pada ingatan jangka pendek, suatu butir dapat dipertahankan di sana dengan pengulangan. Sementara butir-butir diulang, informasi mengenai butir itu ditransfer ke ingatan jangka panjang. Begitu pengulangan suatu butir diakhiri, butir tersebut kemudian akan diganti dengan butir yang baru masuk dan dengan demikian hilang dari ingatan jangka pendek (menurut Atkinson dan Shiffrin, 1971).

the-memory-model
Model Ingatan. (Source)

Dan ketika ditanya oleh detektif ataupun polisi ketika dimintai keterangan lebih lanjut, Meg mengingat sebentar, membayangkannya dan bisa menjawab dengan akurat.

Tahap retrieval yang sungguh mengagumkan. Pengingatan kembali yang dilakukan oleh Meg ini sungguh bikin saya penasaran. Karena tahap retrieval dalam ingatan jangka panjang ini sungguh sulit, banyak rintangannya. Ada yang disebut interferensi. Interferensi ini kalo dalam belajar, makin banyak fakta yang kita pelajari tentang suatu topik, makin sulitlah mengingat fakta tersebut, yang nunjukkin bahwa gak mungkin kita tetap nyimpan banyak hal untuk suatu topik. Yang berarti, semakin banyak yang dilihat Meg semakin sulit pula dia mengingat kembali.

Jangankan tahap retrieval, untuk encoding dalam ingatan jangka panjang, gak memerhatikan lagi kode akustik maupun kode visual, tetapi lebih ke pengertian tentang sesuatunya. Atau bisa dibilang lebih ke dalam pemahamannya, yaitu dengan menambah hubungan-hubungan yang bermakna ke dalam ingatan visualnya.

Saya gak yakin Meg menggunakan metode PQ4R secara cepat. Itu, lho, metode meningkatkan ingatan dengan melakukan preview, questions, read, reflect, recite, dan review, yang katanya dapat meningkatkan kemampuan mengingat dengan baik, masalahnya itu terlalu lama.

Yang saya yakin adalah pengorganisasian Meg terhadap gambar visual yang baru dilihat dengan fakta kasusnya dia lakukan dengan sangat baik. Bisa dengan memakai sistem mnemonics dengan menguraikan kembali dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang sebab akibat suatu peristiwa sehingga membentuk suatu hubungan yang bermakna. Dan juga dengan menambahkan konteks ke dalam peristiwa yang telah terjadi dalam TKP, tentu bukanlah hal sulit untuk Meg. Contoh sederhana tentang konteks adalah ketika para mahasiswa akan melakukan ujian dengan lebih baik bila diuji dalam kelas biasa mereka dan bila pengawasnya adalah guru mereka dibandingkan dengan bila faktor tersebut diubah (Abernathy, 1940). Meg dapat mengasosiasikan letak tempat bukti sebuah kasus dengan letak teman detektifnya, dan ketika ia mencoba mengingat dan menjawab, dia menatap teman detektif yang letaknya dekat dengan barang bukti tersebut.

 

Kesimpulannya adalah kemampuan visual Meg yang bagus, dibantu dengan logika berpikir yang baik, pastilah sangat menunjang tahap retrievalnya dengan baik. Dan ternyata, interferensi dapat diimbangi dengan mengorganisir fakta-fakta tentang suatu topik. Dengan ini, Meg dapat menceritakan letak tahi lalat seseorang yang baru dilihatnya dengan mengasosiasikan terhadap fakta kasus pembunuhan, yang ternyata merupakan pelaku pembunuhannya.

It’s a genius and fascinating thing, really. Dan saya mikir keras buat bikin postingan ini.

Thanks to:

Buku Pengantar Psikologi (Edisi Kedelapan Jilid Satu) by: Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson, Ernest R. Hilgard. Penerbit Erlangga. Yang diterjemahin oleh Dra. Nurdjannah taufiq dan Dra. Rukmini Barhana. Jadi ingat ibu saya, nama lengkapnya Mimin Rukmini. Hehehe. Halo, Bu? Sehat? Transfer dong.. udah dekat sama akhir bulan, nih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s