Blink*, Jangan Pernah Remehin Kesan Pertama

Untuk mengisi waktu luang saya ingin menyampaikan apa yang saya dapati dari hasil mikir keras saya membaca sebuah buku yang berjudul Blink* dari Malcolm Gladwell.

5168757

Jadi buku Blink* ini sangat menarik, ceritanya buku ini dibikin karena Malcolm, biar akrab gitu, manjangin rambutnya, dan tiba-tiba ketika dia lagi naik mobil, jalan-jalan keliling kota, lagi asyik gak ada beban, tiba-tiba dia diberhentiin tiga orang polisi.

“Boleh lihat surat-suratnya?”

“Ini, Pak.”

“Hmm..”

“Kalo boleh tahu, salah saya apa, Pak?”

“Rambut anda kribo.”

Jreng!

Lalu tiga polisi itu ngejelasin bahwa rambut Malcolm kelihatan nakal.

Eh gara-gara ini dia kesal, cuma gara-gara dia meng-kribo-in rambutnya itu, dia dicap “bad” sama tiga orang polisi? Malcolm jadi penasaran dengan dahsyatnya kekuatan kesan pertama dan bikin lagu “Bad” featuring Young Lex dan Awkarin buku Blink*. Untung dia cuma diberhentiin dan mau ditilang, coba kalo rambutnya dijadiin bonsai, dia pasti bikin buku Bonsai*. Bukan Blink*.

Tulisan Malcolm, diperkuat dengan berbagai penelitian dan cerita-cerita yang asyik dan saling bersambung seperti sebuah novel sampai akhir, buku ini seolah-olah menghantui pikiran, jangan pernah ngeremehin kesan pertama.

Karena banyak sekali kita ngeremehin kesan pertama.

Malcolm nyeritain pernah sebagian warga Amerika Serikat tertipu pada calon presiden yang tinggi dan tampan. Karena kesan pertama yang sangat kuat ini, akhirnya banyak yang mengabaikan faktor-faktor lain dalam melihat calon presiden ini. Akhirnya, yang tinggi dan tampan ini terpilih, namun, belum tentu yang kelihatan “good-look” itu bisa memimpin dengan baik.

Fenomena ini sering terjadi di Indonesia, apalagi ketika pemilu legislatif. Terjadi pada ibu saya, dia cerita sendiri sehabis pulang menyoblos, dia kelihatan lelah sekali.

“Ibu pusing milihnya, ibu pilih aja yang kelihatan ganteng dan bersih.”

Secara gak sadar, ibu telah melakukan diskriminasi. Dan rupanya yang melakukan diskriminasi ini adalah pikiran bawah sadar kita, atau yang disebut Malcolm sebagai “Pintu yang Terkunci”.

Percaya gak percaya, pikiran bawah sadar ini memang ada.

Dan ini terbentuk dari orang-orang yang kita temui, pelajaran-pelajaran yang kita simak, film-film yang kita tonton, tanpa sadar ini telah membentuk sebuah pandangan.

Ada satu lagi cerita dari pengusaha mobil yang sukses, namanya Bob Golomb.

Tiga aturan sederhana yang ia terapkan sehingga mobilnya banyak yang laku terjual:

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Jadi, dalam praktiknya, Bob, gak mau ketipu sama kesan pertama. Ia gak mau salah dalam menilai pelanggan yang datang ke gerai mobilnya.

Bisa aja seorang petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, terus dia milih-milih bentar terus langsung bayar mobil secara kontan.

Coba kalo di Indonesia, ngeliat petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, pasti pelayan gerai mobil ngeliatin dengan tatapan sinis, “Toko traktor bukan di sini, keleus…”

Dan ternyata benar, si petani emang nyasar.

Karena di Indonesia, masih banyak petani yang kurang sejahtera hidupnya. Kejadian sama nenek saya yang biasa disebut Emak, dia punya sawah yang lumayan luas, tapi hidupnya segitu-gitu aja.

Halah, melebar.

Saya rasa segini doang udah cukup spoiler-in, tapi ini baru nol koma berapa persennya dari keseluruhan isi bukunya, masih banyak fakta-fakta dan cerita menarik dari Malcolm yang bakal bikin kamu tercengang.

Baca kalo penasaran, ya. Udah. Gitu, aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s