Semua manusia punya rasa takut.

Fear.

Menurut Caroll Izard, yang nulis buku The Psychology of Emotions (1991), takut merupakan salah satu emosi dasar manusia yang bisa dilihat dengan jelas oleh indera penglihatan. Walaupun ketika takut gak diomongin secara langsung, kayak begini, “Eh, gua takut nih sama dosen itu, dia killer abis! Masa ke kampus bukan bawa laptop, tapi malah bawa racun tidur! Ngantuk abis deh pas dia ngajar. Killer, banget, kan?”

Karena kalau diomongin dapat membahayakan kelangsungan hidup, apalagi ketika diomongin keras-keras dan dosennya tepat berada di depan lu, melototin lu sambil bawa tembakan yang diarahin tepat ke jidat lu.

Boom.

Jelas, lah.. takut ini bentuk ekspresi nonverbal yang gak usah diomongin juga keliatan.

Tapi apa sih penyebab takut itu?

Ternyata, apa yang menyebabkan takut adalah karena pandangan kita sendiri. Persepsi sendiri. Ketika kita memandang sesuatu, bisa benda ataupun situasi, dan sesuatu tersebut tidak kita sukai, dan kita harus hadapi, MAU TIDAK MAU. (Lihat: Wikipedia)

Yoi, coz kalau situasi atau sesuatu itu kita gak suka, dan gak perlu kita hadapin. Kita cenderung biasa aja. Contohnya, waktu SD kita gak takut sama dosen.

Karena waktu SD, kita gak tahu apa dosen, yang kita tahu hanyalah bel pulang dan main.

YEAH !!!

Nah, kalo mahasiswa, beuh, konotasi “dosen” agak menakutkan. Apalagi dosen yang tepat berada di depan lu, melototin lu sambil bawa tembakan yang diarahkan tepat ke… pantat lu.

Hmm.

Apa yang bikin lu takut?

o~(-.-)7

Suatu Malam Minggu yang mampus, hujan-hujan unyu. Saya nongkrong sambil berbincang sama someone yang selalu bercerita tentang hal-hal dramatis dan jalan pikirannya yang selalu kontra, ya, semacam, melawan opini publik dan sering memberi pengetahuan yang berguna bagi saya, Bang Hadi. Malam itu agak berbeda.

Perbincangan itu terjadi di Warung Burjo langganan kami berdua kalau nongkrong. Saya yang sembari makan mie rebus bukan tante (Baca: Tanpa Telor), ya, berarti pake telor, dong.. walaupun berharap pakai tante asli, sebenarnya. Bang Hadi yang cuma ngerokok, doang, campur teh manis. Lalu perjalanan kuliner saya berlanjut, gadoin kerupuk–di saat orang-orang nongkrong pakai vapor dan ngelakuin something yang keren, seperti bikin asap bulet dari asap yang dikeluarin vapor–yang kata Bang Hadi, nambulin kerupuk adalah makanan yang paling gak keren dimakan ketika nongkrong. Bodo amat. I love kerupuk. Awalnya hanya ngebahas topik-topik ringan, yang kala itu diselingi dengan orang asing berkulit hitam yang gak tau jalan pikirannya seperti apa, pakai baju merah dan celana pendek, meminta sebatang rokok kepada Bang Hadi. Bang Hadi ngasih satu, eh, kami ngobrol lagi, dia balik lagi, minta satu lagi rokok. Gila nih, orang.

Setelah kejadian aneh tersebut, obrolan melebar menuju topik yang berat.

Topik yang berat itu kayak gimana?

Kita berdua ngomongin situasi yang betul-betul semua manusia bakal hadapin dan sangat menakutkan.

Mati. Kematian. Death. Mampus.

Berat, tapi menarik. Tapi mari bikin ringan. Hehehe.

Takut? Yaiyalah!

Jujur, saya adalah salah satu orang yang takut mati. Apalagi ngebayangin, gimana saya mati, nantinya, rasanya gimana, sesak napasnya gimana, sakaratul maut atau enggak, apakah orang-orang bakal nguburin saya atau enggak, orang-orang bakal ngerasa kehilangan ketika saya mati, atau malahan ketika saya mati orang-orang malah party kegirangan?

Gara-gara pas saya meninggal, kelas lagi kosong.

Iya, kan, kalo kelas kosong, orang-orang suka pada rame.

Hufft.. 😦

Dan, Bang Hadi, punya pandangan yang menarik soal kematian. Dia gak takut mati. Dan dia gak butuh dikenang sehabis dia mati.

Dahi saya mengernyit. Kerupuk yang lagi saya makanin, udah habis separuh.

Anjir. Orang macam apa lu ini?!!

Dia menjelaskan…

Kita harus menyingkirkan dulu faktor eksternal penyebab kematian, seperti ditabrak mobil, atau ada bencana alam. Anggap saja, kalau kita menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dari penyakit, kita bisa hidup sampai rentang usia rata-rata manusia sekarang hidup. Ya, sekitar sampai 60-80 tahun. Jadi, jangan bikin statement, “Ah, bisa aja lu lagi jalan kaki tiba-tiba ada something yang jatuh ke kepala, lu.” Itu yang membuat kita makin parno pada kematian. Kita singkirkan dulu, supaya kadar ketakutan kepada mati menjadi berkurang. Anggap saja, kita hidup sampai tua, sampai tahap dimana menurut Carl Gustav Jung, “Kita Butuh Tuhan.” Yap. It’s tobat time, baby!

Anjay..

Dari sini semakin jelas, gimana, kadar takut mati kalian udah semakin berkurang, kah?

Kedua, mati menawarkan ketidakpastian. Dari awal sudah dijelasin, kita takut karena kita enggak suka. Dan kenapa kita gak suka, karena hal tersebut tidak pasti. Kita gak suka sama yang gak pasti, contoh, kalo lu jadi cowok dan ngajak ngechat cewek yang lu suka, itu deg-degan nungguin balesannya itu gak enak. Karena alasan dia kenapa lama bales chat itu gak pasti. Gara-gara gak pasti, kita cenderung takut, dan membuat alasan-alasan sinting, kayak ceweknya gak suka sama lu atau dia gak punya kuota karena dia sebenarnya sedang bangkrut bapaknya sakit tangannya dimakan buaya atau apalah. Padahal, mah, kalo dipikir pakai logika, sedih juga sih, kok dia bisa-bisanya mengabaikan chat saya, emangnya dia siapa, akan saya racunin minumannya biasa aja.

Iya, sekarang pakai logika, mati itu enggak pasti, karena kita gak tahu kapan waktunya tiba, dan mikirin rasanya cara kita mati. Gak enak, kan? Karena dibayangin kita mati itu rasanya gak enak, semuanya gara-gara film-film dan sinetron sialan yang mencoba mencuci otak dengan adegan-adegan ekstrim yang seolah-olah mati adalah hal yang sakit dan menyedihkan. Coba.. bikin kematian jadi sesuatu yang pasti, maka kadar ketakutan akan kematian akan semakin berkurang. Yoi, kita setel kapan waktunya kita mati dan cara mati apa yang ingin kita rasain oleh diri kita sendiri.

Apakah saya mengajarkan untuk bunuh diri? Iya. Hehehe.

Cuy, untuk ngomongin kayak beginian dengan lucu, kita harus menyingkirkan sejenak nilai-nilai moral yang ada di sekeliling kita. Dan anggap, bunuh diri itu something yang positif. Lu bunuh diri bukan karena lu desperate sama kehidupan lu yang kacau, tapi lu bunuh diri karena lu terlalu bahagia di dunia ini dan memutuskan untuk memberi kebahagiaan kepada orang lain di saat lu meninggal.

Bikinlah cara bunuh diri yang bikin orang terkagum-kagum.

Kalo udah begini, mati menjadi hal yang menyenangkan. Kayak lagi ngerencanain suatu acara. Kita tahu tanggal mainnya, dan gimana cara bikin penonton senang. Yoi. Mari kita mulai berbicara tentang rencana terbaik how the way I die.

How the way we die.

Enaknya, mau mati kaya gimana, nih? 🙂

Hal pertama yang ada di benak saya untuk planning-nya, hindari cara mati yang konyol.

Oke, mari kita kumpulkan kemungkinan-kemungkinan penyebab lu mati secara konyol. Mati karena keselek kerupuk? Gak asik banget mati gara-gara kerupuk! Apalagi kerupuknya kerupuk yang warna putih itu. Udah serasi banget sama kain kafan. Terus apalagi, mati karena mabok lem? Ini aneh. Atau, mati karena terlalu ngakak tertawa? Ini cara mati yang banyak orang pasti bakal tertawa ketika lu mati. Dikiranya lu lagi becanda, njirr!

Kedua, matilah dengan cara mati yang paling keren. Saya udah cari di gugel, anjay, ketemu dua link ini.

http://bangka.tribunnews.com/2016/01/24/beginilah-cara-mati-paling-keren

http://kotak-isi.blogspot.co.id/2012/03/cara-cara-paling-keren-buat-bunuh-diri.html

Link yang pertama masih terlalu mainstream. Link yang kedua itu agak kocak dan terlalu frontal. Dilengkapi gambar ilustrasi cara bunuh diri yang tepat. Keren dan makin scroll down makin aneh. Enjoy.

Oh, iya, kenapa saya bilang link yang pertama itu mainstream, ini nyambung sama alasan Bang Hadi dia gak terlalu mau setelah mati dia dikenang banyak orang. Dia ngambil contoh Martin Luther King. Tokoh yang memperjuangkan persamaan hak atas kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Selama dia hidup, hidupnya menderita. Dia diejek, dicaci maki, dan iya juga sih, saya pernah liat di film Selma, film biografi tentang Martin, biasanya kalo datang ke rumah itu untuk istirahat, ini masih aja ada orang-orang yang ngegangguin. Bayangin, gak tenang banget. Pokoknya hidupnya gak bahagia. Tapi setelah dia mati, ide-ide perjuangannya baru terasa. Dan, barulah dia dikenang. Dan ketika sudah mati, apakah Martin Luther King ngerasain kalo orang-orang di dunia memuji dia? Engga, karena udah mati! Ibaratnya, hubungan dunia dengan kalo kita mati udah putus. Tugas, udah selesai. Lalu, buat apa bikin kita dikenang tapi kita gak bahagia? Itu salah satu hal yang egois, ya. Iya, juga, saya jadi salut sama mereka yang  bisa mengorbankan keegoisannya. Kalo saya, hmm.. kadar egois-nya gede banget. Mikirinnya diri sendiri melulu.

Coba lu baca dulu dan resapi link yang pertama, bukan cara matinya yang keren, tapi nilai-nilai moralnya yang bikin keren kayak mati sesudah bayar semua hutang, mati pas lagi tidur, dan mati dalam dekapan istri. Itu maksudnya apaan sih, mati kok dalam dekapan istri? Romantis, sih, tapi kan itu nantinya bikin istri kita ngerasa bersalah, dong?!!

Menurut saya itu semua kalah keren. Karena saya cari cara mati yang keren.

Bang Hadi punya cara mati yang keren menurut dia, gini, “Lu terbang pakai roket dan orang-orang nontonin ketika proses peluncuran roket lu, dan ketika roket udah menjulang tinggi di langit roketnya meledak. Tubuh lu mencar kemana-mana… tapi tubuh lu bercahaya, layaknya kembang api di Tahun Baru..”

Jujur, ini keren, saya terharu. Entah kenapa, something yang meledak, yang menggelegar, yang pecah itu bikin saya terkagum-kagum. Apalagi setelah roket itu meledak dan bikin seperti kembang api, dan orang-orang yang riuh karena kegirangan dan kagum itu selalu bikin saya ngerasa menakjubkan, feeling great. Sorak sorai tepuk tangan, teriakan, siulan, semua orang bahagia.

Inget, di sini beda sama bom bunuh diri yang dilakukan kebanyakan teroris. Itu gak keren, masa mau bunuh diri harus ikut orang lain, cemen. Bunuh diri itu sendirian, gak nimbulin korban.

Yoi.

Gak mau kalah, saya juga punya. “Mati di luar angkasa juga keren. Jadi gua terbang ke luar angkasa. Gua ngeluarin diri dari roket, gak pakai helm oksigen, dan tubuh gua melayang-layang kemana-mana di luar angkasa. Abadi… forever. Tak terbatas di luar angkasa. Tenang. Sepi. Gak ada suara. Gak ada udara. Malahan gua bisa jadi asteroid, atau benda langit, dan bikin orbit sendiri. Lalu jadi planet baru.”

Keren..

Saya belum selesai, Cuy, ada kemungkinan keren yang lain, “Tubuh gua yang melayang-layang tadi jadi komet. Dan kometnya balik lagi ke bumi, meledak di atmosfer. BLAAARRRR. Hujan meteor.. bercahaya. The Most Beautiful Way to Die in the World..

Yeaaa..

The Most Beautiful Way to Die in the World.

Pas mau terjun dari roket, teriak-teriak seolah menemukan kebebasan..

“GOOD BYE EVERYBOOOOOADY!!!!!!

I’M

DYIIIIINNNNNGGGGG!!!”

KABOOOMMMMMMMMMMMMMM …

DUARRRR!!!

CIIIIIIIUUUUUU..

DARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR !!!

wallhaven-103941
Epic.

Itu yang cara Bang Hadi..

Kalo yang cara saya, pas terjun dari roket…

Belum sempat teriak-teriak…

Udah mati…

Kehabisan napas…

Dan mulai melayang-layang di udara…

Beberapa taun kemudian baru jadi komet..

Masuk ke atmosfir bumi..

Dan meledak..

Pfffhhh..

Debu. Doang.

o~(-.-)7

I don’t get why people are sad at funerals. If you really love the deceased, you should be happy because they’re not suffering anymore. -Pio (My Sociology Teacher at Zenius)

(*) Bang Hadi‘s mind is always make me crazy, go watch his blog at riaksungai.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s