Apple Computers, Perusahaan yang Terwujud Berkat Acara si Bolang

Apple Computers, Perusahaan yang Terwujud Berkat Acara si Bolang

Saya pengin cerita tentang Steve Jobs, gara-gara saya habis baca buku Steve Jobs karangan Walter Isaacson.

Dikit aja, ceritanya.

Btw, lu udah pada kenal Steve Jobs?

Dia cukup terkenal, sih, saya jadi agak minder kalo ngomongin betapa terkenalnya dia, karena saya mah apa atuh, cuma mahasiswa psikologi di UI. Eh, ngarep.

Di UNY.

Iya, iya. Maaf. Masih gagal move on dari kegagalan SBMPTN 2016. Pokoknya, siap SBMPTN 2017!!!!

Siap gagal lagi.

Oke. Gini, saya jelasin.

Steve Jobs udah punya perusahaan yang dia bikin secara kebetulan karena waktu itu temannya, namanya Steve juga. Nama panjangnya Steve Wozniak. Kesamaan nama membuat dua orang menjadi akrab, kayak teman sekelas saya di kampus, bisa jadian karena namanya sama.

Padahal nama ceweknya juga sama dengan saya juga, tapi kenapa dia gak jadiannya sama saya?

Karena saya gak PDKT sama dia.

Oke, gak penting.

Steve Wozniak berhasil bikin komputer yang bagus, tapi dia orangnya kayak saya. Pemalu. Hopeless. Kentutnya berwujud gas. Komputer bagus yang baru dibuatnya malah mau dipamerin secara cuma-cuma di komunitas yang diikutinya, Klub Komputer Homebrew. Untung aja ada orang yang mata duitan kayak Steve Jobs.

steve-wozniak-dan-steve-jobs
Steve Wozniak dan Steve Jobs (pizzacomedy.com)

Percakapan bersejarah yang akan mengubah dunia pun dimulai..

“Gini, Steve, ya, gua juga Steve. Gak semua orang bisa ngerancang dan ngerakit komputer bagus kayak begini sendirian. Kenapa gak kita jual aja, Cuy?” tanya Steve J kepada Steve W. Biar asyik, saya singkat jadi J dan W. Asyik, kan?

“Anjay, mata duitan banget sih lu. Gua gak kepikiran mau ngejual ini semua.”

“Gua bukannya mata duitan. Tapi, gua suka acara Mata Lelaki yang di Trans 7 itu, by the way. Sekarang kok gak tayang lagi, ya?”

“Kan, udah diganti jadi acara Masih Dunia Lain, kan?”

“Intinya, gini. Gua gak bilang kita pasti bakal dapet duit dari ini semua. Tapi kita bakal punya petualangan yang menyenangkan.”

“Kita bakal jadi si Bocah Petualang gitu? Wow. Bolang si Bolang.. si Bocah Petualang~”

Steve J kesal karena sahabatnya ini malah becanda. “KITA BAKAL PUNYA PERUSAHAAAN!!” Sambil mengepalkan tangan dan kepalanya menatap langit.

“Lah, siapa yang ngajak becanda duluan ngomongin acara di Trans 7?”

Lalu Steve Jobs ngebayar orang yang dikenalnya, dia dari Atari (perusahaan komputer) buat ngegambar papan sirkuit dan nyetak ini sebanyak lima puluh lembar. Papan sirkuit itu bentuknya kayak begini nih..

papan-sirkuit
papan sirkuit

Saya juga baru tau, barusan habis searching. Saya kira dulu benda ini namanya “generator”, hehehe, cuma kepikiran aja gitu, tanpa tahu nama aslinya. Ternyata namanya keren juga, papan sirkuit.

Dan ternyata biaya produksi plus gaji orang tadi jatuhnya jatuh 1000 dollar (sekarang aja saya cek 1 dollar sama dengan sekitar hampir 14 ribu rupiah, berarti mereka harus ngumpulin uang 14 juta).

14 juta itu setara saya gak makan 14 bulan.

“Beuh, ini kita bisa dapat untung bersih 700 dollar (9,8 juta rupiah), Cuy. Setiap komputer kita jual 40 dollar (560 ribu rupiah).” jelas Steve Jobs, bersemangat.

“Gua gak yakin kita bisa jual ini semua. Masalahnya gua takut gak laku. Gua aja akhir-akhir ini cuma sering ngasih cek kosong doang ke bapak kos.” wajah Steve Wozniak ngenes.

“Kenapa lu ngasih dia cek kosong, Cuy?”

“Bapak kos gua gak punya pulpen, makanya dia gak bisa nulis nominalnya.”

“Kan, lu punya pulpen. Kenapa gak lu pinjemin pulpen punya lu?”

“Pake nanya. Cek kosong itu artinya, GAK PUNYA DUIT!!!”

Kemudian hening.

“Bolang si Bolang.. si Bocah Petualang~”

Kali ini Steve Jobs yang malah bercanda. Otomatis, Steve Wozniak ngambek. Kabur dan ngebanting pintu.

Steve Jobs langsung ngejar ngebujuk Steve Wozniak.

“Gini, Cuy, ayolah. Untuk sekali dalam hidup kita, ayo bikin perusahaan.”

Dan saat itulah Steve Wozniak jadi bersemangat.

Dia ngebayangin bakal bisa ngelakuinnya karena dua orang sahabat ngediriin perusahaan sendiri. “Ayo, apanya yang gak mungkin?” Steve Wozniak yang tadinya murung, lalu berbalik menatap Steve Jobs.

“Kita bakal jadi si Bolang!”

Lalu mereka berdua bernyanyi bersama. “Bolang si Bolang~ si Bocah Petualang~ Kuat kakinya seperti kaki kijang. Hap, hap. Hap, hap, hap, hap, hap.”

Perjuangan selanjutnya mereka ngumpulin uang untuk bayar produksinya.

Steve Wozniak ngejual kalkulator HP  (ini bukan singkatan dari handphone, tapi nama perusahaan, yaitu Hewlett-Packard) seharga 65 dollar (itu setara 9,1 ribu rupiah. Anjir, kalkulator zaman dulu mahal, ya) dan dapet bencana besar karena kena tipu. Yang beli kalkulatornya ngebayar cuma separo.

Lagi susah kena tipu pula.

Dan Steve Jobs, yang dia punya cuma mobil VW, karena ngerasa mobilnya jelek Mobilnya nembak cewek paling populer di kampus yang cantik terus ditolak. Gak ada pilihan lain, dia jual.

Ya, Steve Jobs berhasil ngejual VW itu seharga 1500 dollar. Bentar saya ngitung dulu pake kalkulator. Setara 21 juta. Untungnya juga dia punya tabungan sebesar 18 juta yang bisa dipake buat modal usaha, ngedesain produknya dan rencana ke depannya.

Setelah itu Jobs dan Woz mikirin nama perusahaannya apa.

Kebetulan waktu itu Steve Jobs habis mengunjungi perkebunan buah-buahan milik temannya, All One Farm, dan habis memanen apel gitu.

Habis dari sana, Jobs dijemput Woz di bandara. Selama perjalanan dari Bandara ke rumah mereka di Los Altos, mereka ngobrol untuk ngediskusiin nama perusahaan komputer pribadi baru mereka.

“Gimana kalo nama perusahaannya Matrix?” tanya Steve Wozniak.

“Engga. Matriks nantinya yang anak IPS frustasi soalnya mereka selalu gagal dalam materi matematika.”

“Gimana, kalo.. Executek?”

“Jelek banget.”

Sampe satu hari mereka gak nemu nama yang bagus. Dan paginya Jobs nelpon Steve Wozniak. “Halo?”

“Iya.” dengan suara unyu baru bangun tidur.

“Gini, Steve, ya, gua juga Steve.”

“Panggil aja gua Woz, ah, ribet amat.”

“Oke, Woz.”

“Ya?”

“Kemarin, kan, gua abis dari kebun buah.”

“Yep.”

“Dan sekarang gua juga lagi diet buah.”

“Terus?”

“Gimana kalo kita namain perusahaan baru kita ini.. Apple Computers.”

Steve Wozniak diam.

“Kalo gak ada nama lain yang kepikiran di otak lu sampe besok. Fix. Apple Computers. Gimana?” Steve Jobs memberi penekanan.

“……………..”

“Woz?”

“Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif. Cobalah beberapa abad lagi.”

“Woz?” Steve bingung.

Tiba-tiba  terdengar suara keras sekali, “Terserah lu!!!”

Dan menurut saya nama Apple Computers itu pilihan yang cerdas, kreatif, dan itu menarik.

Sampe-sampe CEO mereka nantinya yang bernama Mike Markkula berkomentar juga. “Gila. Apple Computers itu gak masuk akal. Ada ‘Apple’. Ada ‘Computer’. Bikin otak lu gak berhenti mikirin itu. Sama sekali kagak cocok!”

Malahan sekarang ada penyanyi Jepang Pikotaro sukses bikin tren lagu yang begini, “I have a pen.. I have an apple. Uggh. Apple Pen.”

piko-taro-ppap
itechpost.com

Itu terinspirasi dari Steve Jobs.

Ya, Steve Jobs, adalah seorang pendiri perusahaan besar di bidang teknologi yang sekarang kita tau produknya udah banyak, dari hape layar sentuh pertama di dunia, iPhone. Laptop keren, Macintosh. Komputer yang memulai semua orang jadi pengin beli komputer, Apple Computers. Toko lagu yang membangkitkan industri musik, iTunes. Tablet kece, iPad. Tempat penyimpanan data di internet, iCloud. Serta buah-buahan, yaitu.. Apple.

Gitu, doang, sih yang pengin saya ceritain.

o~(-.-)7

(*)Berdasarkan kisah nyata persahabatan Steve Jobs dan Steve Wozniak

(**)Tentang beberapa acara di Trans 7 yang disebutkan di atas, sebenarnya nyata, namun tidak terjadi terhadap obrolan Steve Jobs dan Steve Wozniak karena waktu mereka ngobrolin itu Trans 7 belum ada. Hanya becandaan.

(***)Kalo ada cowok jelek yang merasa berhasil dapetin cewek populer di kampus, good job, buddy. Asumsi saya salah berarti. Hebat juga ya, lu, gimana caranya?

Ngenest, Bareng Ernest Sekali-Kali Ngetawain Hidup

Daripada terbuang sia-sia waktu, sejenak, saya ingin berbagi sedikit mengenai hasil membaca keras saya. Kali ini, buku yang sudah saya baca yaitu Ngenest: Ngetawain Hidup Ala Ernest. Yang dikarang oleh Ernest Hemingway.

Maksud saya oleh Ernest Prakasa, yang lebih dikenal sebagai stand-up komedian yang selalu menyuarakan keresahan sebagai orang Cina, yang selalu tertindas, dan minoritas. Tapi diam-diam sedang memberantas imej minoritas, melakukan misi diam-diam tanpa sepengetahuan masyarakat luas, ingin menguasai Indonesia seutuhnya dengan memanfaatkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai sineas.

ngenest

Cuy, buku ini cocok banget untuk lu yang lagi sakit hati. Soalnya lu bisa lebih sakit hati baca buku ini.

Gimana gak sakit hati bahwa Ernest cerita di tahun 2012, Jakarta udah punya lebih dari 170 mall. Sedangkan, mari saya ajak menelusuri kampung halaman saya, kabupaten tanah kelahiran satu-satunya, yang tercinta, Kuningan Jawa Barat, yang belum punya sama sekali, satu pun, mall.

Kasihan, ya. Tempat nongkrong di Kuningan yang paling keren udah fix, Indomaret.

Jujur, nih, jangankan mall, pengin nonton bioskop pun sulit, harus keluar kota. Ke Cirebon dulu perjalanan satu hari. Kalo jalan kaki. Dan kalo naik mobil atau motor ke Cirebon perjalanan juga lumayan lama, satu jam setengah. Itu pun belum menghitung resiko kalo mogok di jalan atau di begal tukang tahu bulat.

Sama kayak Orang Timur banyak mengeluh tidak ada air. Sampai ada ungkapan, “Sumber air sudah dekat.” Orang Kuningan juga ingin mengeluh, “Sumber film sudah dekat.”

Yang pada akhirnya, daripada ambil pusing, seringnya sih, daripada ke bioskop, mending download di Ganyool. “Sumber film tinggal download!”

Walaupun ya, koneksi internetnya pun masih menjadi misteri terbesar di Kuningan. Lemot. Terpaksa harus main-main sejam-dua jam buat download di warnet depan SMAN 2 Kuningan. Warnet paling cepat di Kuningan kecepatan downloadnya yang pernah saya temui dan rasai.

Tapi, ngomong-ngomong, bodo amat tidak ada mall juga, sebab saya sudah pindah ke Jogjakarta, dong. Kota pelajar berhati nyaman. Mantap.

Mall bukan lagi mitos. Hartono Mall dari kosan dekat, kok. Mau nonton film ke bioskop juga ada, tinggal meluncur naik motor ke Ambarukmo Plaza. Yang jadi masalah cuma dua. Pertama, duitnya. Dan kedua, duitnya.

Ujung-ujungnya tetap Ganyool.

Oh, iya, juga nih, Ernest Prakasa juga menampar kebegoan saya dengan ngasih tahu di salah satu ceritanya kalo Steve Jobs itu bukan pendiri Apple.

Maksud saya, bukan cuma pendiri Apple.

Tapi juga pendiri Pixar Studios.

Oh, My, God, baru tahu, Cuy. Maafkan saya Sheriff Woody, Buzz Lightyear, dan Scrat.

Ada yang nyadar gak, kalo Scrat itu bukan buatan Pixar Studios? Saya harap ada. Amin.

Terakhir dan kesimpulannya buku ini menghibur dengan candaan yang jujur. Cerita terbaik dari Ernest versi saya ada tiga. Pertama, tentang gimana memberi pelajaran seksual kepada anak perempuannya, Sky. Dari cerita ini saya mempelajari kosa kata baru, yaitu, “self-service”. Thanks, Ernest.

Kedua, Ernest pernah salah masuk restoran di Bali, yang membuat dia memakan menu makanan di sana, yaitu Half Pork Ribs. Setelah makan itu Ernest langsung bisa jawab tiga pertanyaan dengan satu jawaban yang sama.

Ketiga, mengenai Satpam Penjaga Pintu Bioskop. Pokoknya, jika dipikir-pikir kasihan banget, mereka.

Udah, gitu, aja. Terima kasih udah mau baca, friends.

Blink*, Jangan Pernah Remehin Kesan Pertama

Untuk mengisi waktu luang saya ingin menyampaikan apa yang saya dapati dari hasil mikir keras saya membaca sebuah buku yang berjudul Blink* dari Malcolm Gladwell.

5168757

Jadi buku Blink* ini sangat menarik, ceritanya buku ini dibikin karena Malcolm, biar akrab gitu, manjangin rambutnya, dan tiba-tiba ketika dia lagi naik mobil, jalan-jalan keliling kota, lagi asyik gak ada beban, tiba-tiba dia diberhentiin tiga orang polisi.

“Boleh lihat surat-suratnya?”

“Ini, Pak.”

“Hmm..”

“Kalo boleh tahu, salah saya apa, Pak?”

“Rambut anda kribo.”

Jreng!

Lalu tiga polisi itu ngejelasin bahwa rambut Malcolm kelihatan nakal.

Eh gara-gara ini dia kesal, cuma gara-gara dia meng-kribo-in rambutnya itu, dia dicap “bad” sama tiga orang polisi? Malcolm jadi penasaran dengan dahsyatnya kekuatan kesan pertama dan bikin lagu “Bad” featuring Young Lex dan Awkarin buku Blink*. Untung dia cuma diberhentiin dan mau ditilang, coba kalo rambutnya dijadiin bonsai, dia pasti bikin buku Bonsai*. Bukan Blink*.

Tulisan Malcolm, diperkuat dengan berbagai penelitian dan cerita-cerita yang asyik dan saling bersambung seperti sebuah novel sampai akhir, buku ini seolah-olah menghantui pikiran, jangan pernah ngeremehin kesan pertama.

Karena banyak sekali kita ngeremehin kesan pertama.

Malcolm nyeritain pernah sebagian warga Amerika Serikat tertipu pada calon presiden yang tinggi dan tampan. Karena kesan pertama yang sangat kuat ini, akhirnya banyak yang mengabaikan faktor-faktor lain dalam melihat calon presiden ini. Akhirnya, yang tinggi dan tampan ini terpilih, namun, belum tentu yang kelihatan “good-look” itu bisa memimpin dengan baik.

Fenomena ini sering terjadi di Indonesia, apalagi ketika pemilu legislatif. Terjadi pada ibu saya, dia cerita sendiri sehabis pulang menyoblos, dia kelihatan lelah sekali.

“Ibu pusing milihnya, ibu pilih aja yang kelihatan ganteng dan bersih.”

Secara gak sadar, ibu telah melakukan diskriminasi. Dan rupanya yang melakukan diskriminasi ini adalah pikiran bawah sadar kita, atau yang disebut Malcolm sebagai “Pintu yang Terkunci”.

Percaya gak percaya, pikiran bawah sadar ini memang ada.

Dan ini terbentuk dari orang-orang yang kita temui, pelajaran-pelajaran yang kita simak, film-film yang kita tonton, tanpa sadar ini telah membentuk sebuah pandangan.

Ada satu lagi cerita dari pengusaha mobil yang sukses, namanya Bob Golomb.

Tiga aturan sederhana yang ia terapkan sehingga mobilnya banyak yang laku terjual:

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Jadi, dalam praktiknya, Bob, gak mau ketipu sama kesan pertama. Ia gak mau salah dalam menilai pelanggan yang datang ke gerai mobilnya.

Bisa aja seorang petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, terus dia milih-milih bentar terus langsung bayar mobil secara kontan.

Coba kalo di Indonesia, ngeliat petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, pasti pelayan gerai mobil ngeliatin dengan tatapan sinis, “Toko traktor bukan di sini, keleus…”

Dan ternyata benar, si petani emang nyasar.

Karena di Indonesia, masih banyak petani yang kurang sejahtera hidupnya. Kejadian sama nenek saya yang biasa disebut Emak, dia punya sawah yang lumayan luas, tapi hidupnya segitu-gitu aja.

Halah, melebar.

Saya rasa segini doang udah cukup spoiler-in, tapi ini baru nol koma berapa persennya dari keseluruhan isi bukunya, masih banyak fakta-fakta dan cerita menarik dari Malcolm yang bakal bikin kamu tercengang.

Baca kalo penasaran, ya. Udah. Gitu, aja.