Merasa Kesepian

Waktu awal-awal nyampe di Yogyakarta saya ngerasa sulit banget dan kesepian. Tapi saya berjuang dan mencurahkan kesepian itu dengan menulis di blog. Ajaibnya, berkat blog, ada orang yang baca cerita saya lalu bisa bertemu dengan teman baru yang kesepian, dia ngerasain hal yang sama.

Saya baru tau.

Kesepian bersama ternyata jauh lebih asyik.

Di Psikologi, saya belajar bahwa tiap diri lu ada masalah, pikirin masalah itu dan temuin jawabannya, dengan nemuin jawabannya lu menang.

If you play the Game of Thrones, you win, or you die. There’s no middle ground. –Cersei Lannisters di serial TV Game of Thrones.

Yang bikin saya tercerahkan, saya baru dapat ini sekarang, saya ketemu ini ketika saya ngelamun lama dan kesepian di kamar mandi,

“Ngapain lu ngerasa kesepian di Yogyakarta, Fau, ketika masih di Kuningan aja lu suka ngerasa kesepian. Gak ada bedanya, ngapain harus sedih???”

Iya, juga, ya?

Akhirnya, saya gak kesepian lagi.

Advertisements

Ngenest, Bareng Ernest Sekali-Kali Ngetawain Hidup

Daripada terbuang sia-sia waktu, sejenak, saya ingin berbagi sedikit mengenai hasil membaca keras saya. Kali ini, buku yang sudah saya baca yaitu Ngenest: Ngetawain Hidup Ala Ernest. Yang dikarang oleh Ernest Hemingway.

Maksud saya oleh Ernest Prakasa, yang lebih dikenal sebagai stand-up komedian yang selalu menyuarakan keresahan sebagai orang Cina, yang selalu tertindas, dan minoritas. Tapi diam-diam sedang memberantas imej minoritas, melakukan misi diam-diam tanpa sepengetahuan masyarakat luas, ingin menguasai Indonesia seutuhnya dengan memanfaatkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai sineas.

ngenest

Cuy, buku ini cocok banget untuk lu yang lagi sakit hati. Soalnya lu bisa lebih sakit hati baca buku ini.

Gimana gak sakit hati bahwa Ernest cerita di tahun 2012, Jakarta udah punya lebih dari 170 mall. Sedangkan, mari saya ajak menelusuri kampung halaman saya, kabupaten tanah kelahiran satu-satunya, yang tercinta, Kuningan Jawa Barat, yang belum punya sama sekali, satu pun, mall.

Kasihan, ya. Tempat nongkrong di Kuningan yang paling keren udah fix, Indomaret.

Jujur, nih, jangankan mall, pengin nonton bioskop pun sulit, harus keluar kota. Ke Cirebon dulu perjalanan satu hari. Kalo jalan kaki. Dan kalo naik mobil atau motor ke Cirebon perjalanan juga lumayan lama, satu jam setengah. Itu pun belum menghitung resiko kalo mogok di jalan atau di begal tukang tahu bulat.

Sama kayak Orang Timur banyak mengeluh tidak ada air. Sampai ada ungkapan, “Sumber air sudah dekat.” Orang Kuningan juga ingin mengeluh, “Sumber film sudah dekat.”

Yang pada akhirnya, daripada ambil pusing, seringnya sih, daripada ke bioskop, mending download di Ganyool. “Sumber film tinggal download!”

Walaupun ya, koneksi internetnya pun masih menjadi misteri terbesar di Kuningan. Lemot. Terpaksa harus main-main sejam-dua jam buat download di warnet depan SMAN 2 Kuningan. Warnet paling cepat di Kuningan kecepatan downloadnya yang pernah saya temui dan rasai.

Tapi, ngomong-ngomong, bodo amat tidak ada mall juga, sebab saya sudah pindah ke Jogjakarta, dong. Kota pelajar berhati nyaman. Mantap.

Mall bukan lagi mitos. Hartono Mall dari kosan dekat, kok. Mau nonton film ke bioskop juga ada, tinggal meluncur naik motor ke Ambarukmo Plaza. Yang jadi masalah cuma dua. Pertama, duitnya. Dan kedua, duitnya.

Ujung-ujungnya tetap Ganyool.

Oh, iya, juga nih, Ernest Prakasa juga menampar kebegoan saya dengan ngasih tahu di salah satu ceritanya kalo Steve Jobs itu bukan pendiri Apple.

Maksud saya, bukan cuma pendiri Apple.

Tapi juga pendiri Pixar Studios.

Oh, My, God, baru tahu, Cuy. Maafkan saya Sheriff Woody, Buzz Lightyear, dan Scrat.

Ada yang nyadar gak, kalo Scrat itu bukan buatan Pixar Studios? Saya harap ada. Amin.

Terakhir dan kesimpulannya buku ini menghibur dengan candaan yang jujur. Cerita terbaik dari Ernest versi saya ada tiga. Pertama, tentang gimana memberi pelajaran seksual kepada anak perempuannya, Sky. Dari cerita ini saya mempelajari kosa kata baru, yaitu, “self-service”. Thanks, Ernest.

Kedua, Ernest pernah salah masuk restoran di Bali, yang membuat dia memakan menu makanan di sana, yaitu Half Pork Ribs. Setelah makan itu Ernest langsung bisa jawab tiga pertanyaan dengan satu jawaban yang sama.

Ketiga, mengenai Satpam Penjaga Pintu Bioskop. Pokoknya, jika dipikir-pikir kasihan banget, mereka.

Udah, gitu, aja. Terima kasih udah mau baca, friends.

Blink*, Jangan Pernah Remehin Kesan Pertama

Untuk mengisi waktu luang saya ingin menyampaikan apa yang saya dapati dari hasil mikir keras saya membaca sebuah buku yang berjudul Blink* dari Malcolm Gladwell.

5168757

Jadi buku Blink* ini sangat menarik, ceritanya buku ini dibikin karena Malcolm, biar akrab gitu, manjangin rambutnya, dan tiba-tiba ketika dia lagi naik mobil, jalan-jalan keliling kota, lagi asyik gak ada beban, tiba-tiba dia diberhentiin tiga orang polisi.

“Boleh lihat surat-suratnya?”

“Ini, Pak.”

“Hmm..”

“Kalo boleh tahu, salah saya apa, Pak?”

“Rambut anda kribo.”

Jreng!

Lalu tiga polisi itu ngejelasin bahwa rambut Malcolm kelihatan nakal.

Eh gara-gara ini dia kesal, cuma gara-gara dia meng-kribo-in rambutnya itu, dia dicap “bad” sama tiga orang polisi? Malcolm jadi penasaran dengan dahsyatnya kekuatan kesan pertama dan bikin lagu “Bad” featuring Young Lex dan Awkarin buku Blink*. Untung dia cuma diberhentiin dan mau ditilang, coba kalo rambutnya dijadiin bonsai, dia pasti bikin buku Bonsai*. Bukan Blink*.

Tulisan Malcolm, diperkuat dengan berbagai penelitian dan cerita-cerita yang asyik dan saling bersambung seperti sebuah novel sampai akhir, buku ini seolah-olah menghantui pikiran, jangan pernah ngeremehin kesan pertama.

Karena banyak sekali kita ngeremehin kesan pertama.

Malcolm nyeritain pernah sebagian warga Amerika Serikat tertipu pada calon presiden yang tinggi dan tampan. Karena kesan pertama yang sangat kuat ini, akhirnya banyak yang mengabaikan faktor-faktor lain dalam melihat calon presiden ini. Akhirnya, yang tinggi dan tampan ini terpilih, namun, belum tentu yang kelihatan “good-look” itu bisa memimpin dengan baik.

Fenomena ini sering terjadi di Indonesia, apalagi ketika pemilu legislatif. Terjadi pada ibu saya, dia cerita sendiri sehabis pulang menyoblos, dia kelihatan lelah sekali.

“Ibu pusing milihnya, ibu pilih aja yang kelihatan ganteng dan bersih.”

Secara gak sadar, ibu telah melakukan diskriminasi. Dan rupanya yang melakukan diskriminasi ini adalah pikiran bawah sadar kita, atau yang disebut Malcolm sebagai “Pintu yang Terkunci”.

Percaya gak percaya, pikiran bawah sadar ini memang ada.

Dan ini terbentuk dari orang-orang yang kita temui, pelajaran-pelajaran yang kita simak, film-film yang kita tonton, tanpa sadar ini telah membentuk sebuah pandangan.

Ada satu lagi cerita dari pengusaha mobil yang sukses, namanya Bob Golomb.

Tiga aturan sederhana yang ia terapkan sehingga mobilnya banyak yang laku terjual:

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Beri perhatian terhadap pelanggan.

Jadi, dalam praktiknya, Bob, gak mau ketipu sama kesan pertama. Ia gak mau salah dalam menilai pelanggan yang datang ke gerai mobilnya.

Bisa aja seorang petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, terus dia milih-milih bentar terus langsung bayar mobil secara kontan.

Coba kalo di Indonesia, ngeliat petani belepotan, bajunya kotor, pakai caping, bawa cangkul, datang ke gerai mobil, pasti pelayan gerai mobil ngeliatin dengan tatapan sinis, “Toko traktor bukan di sini, keleus…”

Dan ternyata benar, si petani emang nyasar.

Karena di Indonesia, masih banyak petani yang kurang sejahtera hidupnya. Kejadian sama nenek saya yang biasa disebut Emak, dia punya sawah yang lumayan luas, tapi hidupnya segitu-gitu aja.

Halah, melebar.

Saya rasa segini doang udah cukup spoiler-in, tapi ini baru nol koma berapa persennya dari keseluruhan isi bukunya, masih banyak fakta-fakta dan cerita menarik dari Malcolm yang bakal bikin kamu tercengang.

Baca kalo penasaran, ya. Udah. Gitu, aja.

Satu Minggu Menembus Ruang Batas

Satu Minggu Menembus Ruang Batas

Hello, friends, gimana kabar kalian? Gua tau, pasti banyak yang masih chattingan sama gebetannya, walaupun gebetannya udah punya pacar. Dengan alasan pengin nurutin lagu Sheryl Sheinafia “Kutunggu Kau Putus”.Tapi yang nunggu kayak begitu biasanya terwujud, pasangan yang ditungguin biasanya putus betulan.

Putus pacarannya, tapi nikah.

Ada juga yang udah ditolak mentah-mentah sama gebetannya tapi ketika ada kesempatan papasan sama dia, masih curih-curih perhatian. Tau gua.. karena gua sendiri tuh barusan kayak begitu tadi siang. Tapi si kampret yang gua cariin kagak ada.

Hehehe.

Minggu ini gua pengin bersyukur segalanya berjalan dengan lancar, biasanya mah wuuhuy banyak thriller psikologisnya.

Dari yang hari Selasa gua tiba-tiba dapat ilham untuk ngajakkin teman gua yang suka sama stand-up, Yoga, buat nonton show stand-up komedi entar malam Kamis. Dia mau.

Lalu ada ide bikin grup Line standup psikologi, gua langsung bikin. Grup yang berisikan anak-anak psikologi UNY yang hobi stand-up dan mau untuk tampil stand-up. Grupnya hanya beranggotakan tiga orang, penginnya sih tiga ratus orang, tapi apa daya kami tak kuasa dan bukan adikuasa, kami hanya adiguna yang sering diguna-guna. Anggotanya gua, Yoga, sama Ruben, gak ada yang meyakinkan dari kami bertiga tapi kami yakin kami bisa menembus ruang batas untuk menjadikan dunia psikologi ini lebih jayus.

Hehehe.

Baru berdiri tiba-tiba ada masalah di grup Line standup psikologi ini.

Nama standup psikologi ini kurang keren menurut gua.

Gua ganti nama jadi psycho-standupcomedy.

Habis ganti nama pun anggota kami gak nambah, kok.

Masalah kedua muncul.

Mendadak setelah ganti nama grup, Ruben yang gua ajak nonton show dan ikut sharing komika Jogja, tiba-tiba sakit.

“Maaf nih, saya gering tepar.” kata dia.

Sakitnya Ruben menjadi tanda awal perjuangan kami. Kami yakin setelah dicerca oleh dua masalah ini, grup ini telah belajar dari kesalahan dan tumbuh menjadi semakin besar, untuk menjadikan dunia psikologi menjadi lebih jayus.

Hehehe.

Rabu malam, gua bareng Yoga ikut sharing komika Jogja bareng komunitas Stand-Up Indo Jogja dengan masih malu-malu merah kayak bayi kucing baru lahir dari induknya. Baru pertama kali, Cuy, ikutan begini. Lumayanlaah.. sedikit mendapat banyak pencerahan tentang materi gua yang belum lucu ini.

Waktu berjalan dengan cepat sampai ke Kamis malam, malam Jumat, gua nebeng Yoga yang udah gua ajak, berangkat ke Lembaga Indonesia Perancis di Jalan Sagan 3 Sleman Jogjakarta untuk menonton Wang Sinawang, show stand-up yang gua maksud. Show stand-up pertama yang gua tonton secara langsung. Terima kasih Stand Up Indo Jogja yang sudah menyelenggarakan event yang sangat pecah malam ini. Bang Mukti Entut, Om Seno, Bang Chandra Oreo, Bang Oki Glenn, Sitampanbgt, dan Aa Iqbal Qutul luar biasa sekali membawakan bit demi bit dengan sangat keren. Habis nonton, gua jadi pengin bikin show sendiri.

Gua yakin, gua bisa.

Hehehehe.

wang-sinawang
Wang Sinawang (Sumber Foto: @gigihhadiguna)

Di malam Minggu ini gua diapelin sama ibu dan bapak gua, Cuy, yang udah janji buat datang nganterin kendaraan. Yoi, gua dibawain kendaraan yang sangat canggih. Sepeda roda dua yang pake mesin.

Hari ini pun gua habis ikut workshop kece dari Magenta Radio, UKM radio di universitas. Workshop Speak Up disebutnya, yang ngundang Chalida Ghrya, penyiar radio di Geronimo FM, dan MC profesional yang lucu banget, Mas Alit Jabang Bayi. Denger namanya aja udah geli-geli sendiri. Soalnya gua pengin snack-nya yang enak penasaran banget sama orang yang bisa ngomong di depan umum itu kayak gimana sih, dan workshop ini, dengan dua senior yang sudah ngasih banyak pengalaman dan pengetahuannya.

chalida-ghrya
Chalida Ghrya, Orang Sunda yang sukses jadi penyiar di Jogja. (Sumber Gambar: @magentaradio)

Stay educated, work harder, dress well, respect, and be nice to people. –Chalida Ghrya

alit-jb
Alit JB (Sumber Gambar: @magentaradio)

Selama di panggung hati kita milik orang banyak. Walaupun gak nyaman, dinyaman-nyamankan. -Alit Jabang Bayi

Gak biasanya juga malam itu adek gua mau diajak telponan, si Enok, biasanya kita jaim-jaiman. Si kampret nyanyi-nyanyi di telpon setelah gua pancing gua yang nyanyi duluan. Ah, enaknya punya pulsa bisa telpon-telponan. Iya, pake hape bapak gua.

Hehehe.

Tuh, liat bapak gua dan ibu gua lagi pada ngorok tidur.

Pemandangan yang sangat…… isi sendiri.

Baru kali ini, gua liat dua orang ngorok bikin gua jadi sangat kontemplatif.

Satu minggu yang menembus ruang batas.